Talknesia.ID - Chatbot AI mulai menempati ruang yang sebelumnya lebih sering diisi teman, keluarga, atau orang terdekat: menjadi tempat bercerita ketika seseorang sedang menghadapi masalah pribadi.
Survei Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute menemukan 81,1 persen responden Gen Z Indonesia mengaku pernah curhat kepada AI. Pada kelompok Milenial, angkanya mencapai 63,6 persen.
Survei tersebut dilakukan terhadap 183 responden Gen Z dan Milenial Indonesia pada Januari hingga April 2026. Jika kedua kelompok digabungkan, lebih dari 70 persen responden mengaku pernah menggunakan AI untuk curhat.
Angka tersebut menarik bukan hanya karena tingginya penggunaan AI, tetapi juga karena alasan di baliknya. Salah satu alasan terbesar responden menggunakan AI untuk bercerita adalah karena lingkungan sekitar mereka tidak selalu menyediakan ruang yang dianggap aman untuk berbicara.
AI dianggap selalu tersedia dan tidak menghakimi
Bagi sebagian pengguna, daya tarik AI bukan sekadar kemampuannya menjawab pertanyaan. Chatbot juga dianggap mudah diakses ketika seseorang membutuhkan tempat untuk berbicara.
Sebanyak 73,3 persen responden menyukai AI karena dapat tersedia kapan saja. Sebanyak 68,9 persen menyebut AI tidak menghakimi, sementara 54,8 persen menyebut privasi sebagai salah satu alasan.
Topik yang dibicarakan juga berkaitan dengan persoalan sehari-hari, mulai dari overthinking dan kecemasan, karier serta masa depan, hingga burnout.
Namun, ada hal yang perlu diluruskan. Angka lebih dari 70 persen tersebut merupakan proporsi responden yang pernah curhat kepada AI. Angka itu bukan berarti lebih dari 70 persen anak muda secara khusus menggunakan AI untuk mengatasi kecemasan, overthinking, dan burnout.
Fenomena serupa terlihat pada remaja di Amerika Serikat
Fenomena tersebut juga terlihat dalam penelitian di Amerika Serikat. Common Sense Media melakukan survei nasional terhadap 1.060 remaja berusia 13–17 tahun pada April–Mei 2025.
Sebanyak 72 persen responden mengaku pernah menggunakan AI companion, sedangkan 52 persen merupakan pengguna reguler. Sebanyak 33 persen menggunakannya untuk interaksi sosial atau relasi, sementara 12 persen menggunakannya untuk dukungan emosional atau kesehatan mental.
Sebanyak 9 persen bahkan mengatakan mereka menganggap AI seperti teman atau best friend.
Temuan lain yang cukup menarik adalah 31 persen remaja menilai percakapan dengan AI sama memuaskannya atau lebih memuaskan dibandingkan percakapan dengan teman nyata.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak anak muda menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa sebagian dari mereka merasa percakapan dengan mesin dapat memenuhi kebutuhan sosial atau emosional tertentu.
Data 2026 menunjukkan penggunaan untuk masalah pribadi semakin terlihat
Riset Common Sense Media yang lebih baru, The Common Sense Media Census: AI Use by Tweens and Teens 2026, memberikan gambaran yang lebih luas.
Survei terhadap 1.204 anak usia 9–17 tahun di Amerika Serikat yang dilakukan pada 18–26 Maret 2026 menemukan 86 persen responden sudah menggunakan atau berinteraksi dengan AI. Sebanyak 67 persen pernah menggunakan chatbot AI.
ChatGPT menjadi AI yang paling banyak disebut sebagai layanan yang paling sering digunakan, dengan angka 40 persen.
Yang relevan dengan fenomena curhat adalah temuan bahwa 37 persen pengguna AI pernah menggunakan AI untuk membicarakan perasaan atau masalah pribadi.
Sebanyak 49 persen menggunakan AI untuk meminta saran tentang masa depan atau tujuan. Sebanyak 40 persen menggunakannya untuk berlatih percakapan atau keterampilan sosial.
Dari pengguna yang menggunakan AI untuk membicarakan perasaan atau masalah pribadi, 25 persen mengatakan AI terkadang terasa lebih memahami mereka dibandingkan kebanyakan orang.
Sam Altman juga mengkhawatirkan ketergantungan emosional
Fenomena ini bukan hanya menjadi perhatian peneliti. CEO OpenAI Sam Altman juga pernah membicarakan apa yang disebut sebagai emotional overreliance, atau ketergantungan emosional berlebihan terhadap AI.
Dalam penjelasannya, Altman menggambarkan situasi ketika seseorang mulai membawa hampir seluruh persoalan hidupnya kepada ChatGPT, meminta bantuan untuk mengambil keputusan, dan merasa chatbot tersebut semakin mengenal dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.
Menurut Altman, fenomena tersebut cukup umum di kalangan anak muda dan menjadi sesuatu yang sedang dipelajari OpenAI.
Ini membuat persoalannya menjadi lebih kompleks. AI memang dapat menjadi alat yang mudah diakses untuk menuangkan pikiran, tetapi kemudahan tersebut juga dapat membuat batas antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dan menjadikannya sumber utama dukungan emosional menjadi semakin tipis.
Apakah AI membuat anak muda semakin kesepian?
Di sinilah data perlu dibaca dengan hati-hati.
Riset 2026 menemukan bahwa anak yang merasa lebih kesepian cenderung menggunakan AI lebih sering. Sebanyak 54 persen pengguna AI harian mengatakan mereka merasa kesepian setidaknya kadang-kadang. Angkanya 47 persen pada pengguna mingguan dan 44 persen pada pengguna bulanan.
Sementara itu, pada mereka yang menggunakan AI kurang dari sebulan sekali atau tidak menggunakannya, angkanya 33 persen.
Namun, hubungan tersebut belum membuktikan bahwa penggunaan AI menyebabkan seseorang menjadi kesepian.
Ada setidaknya dua kemungkinan yang perlu dipertimbangkan: anak yang sudah merasa kesepian mungkin lebih sering mencari dukungan melalui AI, atau penggunaan AI yang berlebihan pada kondisi tertentu justru dapat menggantikan sebagian mekanisme coping dan interaksi sosial yang lebih sehat.
Karena itu, menyimpulkan bahwa ChatGPT atau AI telah membuat Gen Z menjauh dari manusia masih terlalu jauh dari bukti yang tersedia.
Yang berubah adalah tempat manusia mencari ruang aman
Jika berbagai penelitian tersebut dibaca bersama, ada satu perubahan yang lebih menarik daripada sekadar angka penggunaan AI.
AI mulai digunakan untuk kebutuhan yang sebelumnya sangat manusiawi: bercerita, meminta nasihat, berlatih percakapan, memikirkan masa depan, dan mencari respons ketika seseorang merasa tidak memiliki ruang aman di sekitarnya.
Ini tidak otomatis berarti AI menggantikan manusia. Tetapi fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian anak muda menemukan kenyamanan tertentu dalam berinteraksi dengan mesin yang selalu tersedia, tidak menunjukkan ekspresi menghakimi, dan dapat merespons kapan saja.
Bagi keluarga, sekolah, komunitas, dan pembuat kebijakan, persoalannya kemudian bukan sekadar melarang anak menggunakan AI. Yang lebih mendasar adalah memastikan mereka tetap memiliki akses kepada hubungan manusia yang aman, sehat, dan dapat dipercaya.
AI dapat membantu seseorang mengurai pikiran. Tetapi ketika chatbot mulai menjadi satu-satunya tempat seseorang bercerita, mengambil keputusan, atau mencari penguatan emosional, pertanyaan tentang batas penggunaan menjadi jauh lebih penting.
Catatan Talknesia: Data yang tersedia mendukung kesimpulan bahwa penggunaan AI untuk percakapan pribadi dan emosional semakin umum. Namun, belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa AI secara langsung menyebabkan Gen Z menjadi kesepian atau menjauh dari manusia.
Sumber:
IDN Research Institute — Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027
Common Sense Media — The Common Sense Media Census: AI Use by Tweens and Teens 2026
