Mulai mengetik untuk mencari berita...

Beranda / Tech / AI, Video Commerce, dan Masa Depan UMKM: 3 Perubahan yang Perlu Disiapkan Mulai Sekarang

AI, Video Commerce, dan Masa Depan UMKM: 3 Perubahan yang Perlu Disiapkan Mulai Sekarang

UMKM era AI


Dunia bisnis sedang berubah dengan cepat.

Kecerdasan buatan atau AI tidak lagi hanya digunakan untuk membuat tulisan, gambar, atau menjawab pertanyaan. Di saat yang sama, cara konsumen menemukan dan membeli produk juga berubah. Video commerce semakin berkembang, sementara marketplace terus menjadi tempat penting bagi UMKM untuk mendapatkan pelanggan.

Di tengah perubahan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan: teknologi hanya akan benar-benar membantu bisnis jika fondasi datanya sudah siap.

Bagi UMKM, ada setidaknya tiga perubahan yang layak diperhatikan.

1. AI Mulai Berubah Menjadi Tenaga Kerja Digital

Investasi perusahaan teknologi besar terhadap infrastruktur AI terus meningkat. Pada 2026, belanja infrastruktur AI diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar.

Perusahaan-perusahaan besar tidak hanya berlomba membuat chatbot yang lebih pintar. Mereka sedang membangun infrastruktur yang memungkinkan AI digunakan untuk semakin banyak pekerjaan bisnis.

Perubahannya cukup sederhana untuk dibayangkan.

Dulu, pemilik usaha menggunakan AI seperti ini:

"Buatkan caption untuk produk saya."

Ke depan, penggunaan AI bisa jauh lebih luas:

"Analisis penjualan bulan ini, cari produk yang mengalami penurunan, bandingkan dengan bulan sebelumnya, lalu berikan rekomendasi stok dan promosi."

Perbedaannya sangat besar.

AI tidak lagi hanya menjadi alat bantu untuk mengerjakan tugas, tetapi mulai menjadi sistem yang membantu pemilik usaha menganalisis dan mengambil keputusan.

Apa artinya bagi UMKM?

UMKM tidak perlu membangun server AI sendiri atau membeli perangkat keras mahal.

Justru perusahaan kecil dapat memanfaatkan infrastruktur yang dibangun perusahaan teknologi besar melalui layanan cloud, aplikasi SaaS, API, dan AI agent.

Yang perlu dipikirkan adalah pekerjaan mana yang paling layak diberikan kepada AI.

Misalnya:

  • membuat laporan penjualan;
  • menganalisis produk terlaris;
  • memantau stok;
  • membuat konten;
  • menjawab pertanyaan pelanggan;
  • membuat ringkasan transaksi;
  • menemukan pola penjualan;
  • memberikan rekomendasi pembelian.

Pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi:

"AI apa yang sedang populer?"

Melainkan:

"Pekerjaan bisnis apa yang bisa dibuat lebih cepat dan murah dengan AI?"


2. Video Commerce Mengubah Cara Produk Ditemukan

Perubahan berikutnya datang dari sisi konsumen.

Penjualan online tidak lagi hanya berlangsung melalui pencarian produk dan halaman katalog. Video semakin berperan dalam memperkenalkan produk kepada calon pembeli.

Di Indonesia, jumlah seller yang menggunakan video commerce terus meningkat. Data Google, Temasek, dan Bain menunjukkan jumlah seller yang menggunakan video mencapai sekitar 800.000, sementara volume transaksi tahunan telah mencapai sekitar 2,6 miliar transaksi.

Bagi bisnis yang menjual produk visual, seperti fashion, makanan, kecantikan, dan lifestyle, perubahan ini sangat penting.

Dulu pola pembelian bisa seperti:

Cari produk → lihat foto → baca deskripsi → beli.

Sekarang semakin sering menjadi:

Lihat video → tertarik → melihat produk → percaya → membeli.

Apa yang harus dilakukan UMKM?

Jangan hanya membuat satu foto katalog untuk setiap produk.

Satu produk sebenarnya dapat diubah menjadi banyak materi konten.

Misalnya satu gamis dapat dibuat menjadi:

  • video detail bahan;
  • video ukuran;
  • video perbandingan warna;
  • video cara memakai;
  • video detail jahitan;
  • video FAQ pelanggan;
  • video proses produksi;
  • video keunggulan produk;
  • video styling;
  • video testimoni.

Di sinilah AI dapat membantu.

AI dapat digunakan untuk membuat ide konten, menyusun skrip, mencari variasi pembuka video, membuat caption, hingga membantu menganalisis performa konten.

Dengan demikian:

1 produk → banyak konten → lebih banyak peluang ditemukan pelanggan.


3. Marketplace Penting, Tetapi Jangan Menyerahkan Seluruh Bisnis Kepadanya

Marketplace tetap menjadi salah satu kanal penting bagi UMKM.

Program-program untuk memperkuat produk lokal dan ekspor juga terus dikembangkan. Salah satunya adalah Program Akselerasi Produk Lokal yang melibatkan Shopee dan Kementerian Perdagangan.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan pemilik usaha.

Marketplace sebaiknya menjadi kanal penjualan, bukan satu-satunya fondasi bisnis.

Jika seluruh bisnis bergantung pada satu platform, perubahan algoritma, biaya, kebijakan, atau persaingan di dalam platform dapat langsung memengaruhi bisnis.

Strategi yang lebih sehat adalah membagi fungsi.

Marketplace → mendapatkan pelanggan baru

Toko sendiri → membangun hubungan dengan pelanggan

ERP/POS → menyimpan data bisnis

AI → menganalisis dan mengotomatisasi

Dengan model seperti ini, marketplace tetap digunakan secara maksimal tanpa membuat bisnis sepenuhnya bergantung kepadanya.


Data Akan Menjadi Aset yang Semakin Berharga

Dari ketiga perubahan tersebut, sebenarnya ada satu benang merah.

Data.

AI membutuhkan data.

Video commerce menghasilkan data.

Marketplace menghasilkan data.

Penjualan menghasilkan data.

Stok menghasilkan data.

Keuangan menghasilkan data.

Masalahnya, banyak UMKM masih menyimpan data tersebut secara terpisah.

Penjualan ada di marketplace.

Stok ada di catatan lain.

Pengeluaran ada di buku atau spreadsheet.

Data pelanggan ada di WhatsApp.

Keuangan ada di rekening.

Akibatnya, pemilik usaha sulit melihat kondisi bisnis secara utuh.

Padahal AI akan jauh lebih berguna jika semua informasi penting tersebut dapat dibaca dari sistem yang terstruktur.


Urutan yang Lebih Masuk Akal untuk UMKM

Karena itu, UMKM tidak perlu langsung mengejar teknologi paling canggih.

Urutannya bisa dimulai dari hal yang sederhana.

1. Rapikan data

Pastikan produk, stok, transaksi, biaya, dan pelanggan memiliki struktur yang jelas.

2. Satukan data bisnis

Gunakan POS, ERP, spreadsheet terstruktur, atau sistem lain sebagai sumber data utama.

3. Otomatiskan pekerjaan berulang

Misalnya laporan penjualan, stok, dan rekap transaksi.

4. Tambahkan AI

Gunakan AI untuk membaca data dan membantu pekerjaan yang membutuhkan analisis.

5. Gunakan AI Agent

Setelah proses bisnis sudah jelas, sebagian workflow dapat dijalankan secara otomatis oleh agent.

Dengan urutan tersebut, AI bukan sekadar menjadi aplikasi tambahan.

AI menjadi bagian dari sistem bisnis.


Jadi, Apa yang Harus Dilakukan UMKM Sekarang?

Tidak perlu membeli sepuluh aplikasi AI.

Tidak perlu mengikuti setiap tren teknologi.

Tidak perlu membangun model AI sendiri.

Mulailah dengan lima pertanyaan sederhana:

Berapa omzet saya?

Produk apa yang paling laku?

Produk apa yang mulai menurun?

Berapa keuntungan sebenarnya?

Apa yang sebaiknya saya lakukan berikutnya?

Jika sistem bisnis Anda sudah dapat menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan data yang benar, maka Anda sudah memiliki fondasi yang sangat baik untuk menggunakan AI.


Kesimpulan

Perubahan teknologi 2026 bukan hanya tentang munculnya AI yang semakin pintar.

Ada tiga perubahan besar yang berjalan bersamaan:

AI mulai menjadi tenaga kerja digital.

Video semakin menjadi mesin penjualan.

Data bisnis semakin menjadi aset utama.

Bagi UMKM, peluang terbesar bukanlah menjadi perusahaan teknologi.

Peluangnya adalah menjadi bisnis kecil yang mampu memanfaatkan teknologi lebih efektif daripada pesaingnya.

Karena pada akhirnya, keunggulan bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki AI paling canggih.

Tetapi oleh siapa yang mampu mengubah data menjadi keputusan, keputusan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi keuntungan.

Sponsor

Banner Iklan

Bagikan Artikel Ini