Ada pola yang, jujur saja, sudah mulai terasa berulang seperti kaset rusak. Beberapa minggu lalu ibu-ibu bersyukur harga telur dan ayam anjlok. Sekarang, begitu kalender bergeser mendekati hari pertama sekolah, angka-angka itu bersiap berbalik arah — dan kali ini bukan kabar baik untuk dompet rumah tangga.
Pemerintah Sendiri Sudah "Mengaku Kalah" Duluan
Yang menarik, pemerintah tidak menunggu harga benar-benar melonjak untuk bertindak. Kementerian Pertanian sudah lebih dulu mematok harga acuan baru: ayam hidup Rp19.500 per kilogram dan telur Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak, mulai berlaku 15 Juli 2026 — persis beberapa hari setelah sekolah kembali dibuka. Angka ini disepakati lewat rembuk bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, asosiasi peternak, dan pelaku usaha.
Sumber: Kompas.com, “Kementan Patok Harga Ayam Hidup Rp 19.500 dan Telur Rp 24.000, Mulai 15 Juli”, 6 Juli 2026
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bahkan cukup terang-terangan mengakui bahwa MBG kini menjadi sumber permintaan baru yang cukup signifikan bagi penyerapan komoditas ayam dan telur dari peternak. Ia sendiri menyebut situasi ini sebagai kondisi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang masih terus dipelajari pemerintah agar bisa lebih siap ke depannya.
Sumber: Kompas.com, “Kementan Akui Harga Ayam dan Telur Turun Saat MBG Libur”, 8 Juli 2026
Dibaca dengan jujur, ini bukan sekadar pernyataan teknis — ini pengakuan bahwa satu program pemerintah kini punya kekuatan cukup besar untuk menggoyang harga pangan nasional dua arah: naik saat aktif, turun saat libur.
Peternak Kecil Jadi Pihak yang Paling Dulu Babak Belur
Di Situbondo, sebelum kabar kenaikan ini muncul, peternak layer skala kecil sempat berteriak duluan. Ketua Asosiasi Peternak Layer Situbondo mengaku harga telur sempat anjlok ke Rp19.000 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi, sementara harga pakan sudah naik sekitar 15 persen sejak awal tahun.
Sumber: M-RadarNews, “Harga Telur Ayam Anjlok di Situbondo, Diduga Akibat Penghentian Sementara Program Makan Bergizi Gratis”
Bila polanya sekarang berbalik dan MBG kembali menyerap besar-besaran, peternak kecil yang baru saja nyaris gulung tikar ini harus buru-buru menyesuaikan produksi dalam hitungan hari. Tidak ada bantalan transisi yang benar-benar mereka rasakan di lapangan.
Ironisnya, pemerintah sendiri sadar risiko ini. Sudaryono secara eksplisit mendorong peternak menyesuaikan pola produksi dengan kalender sekolah agar keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga, termasuk saat masa libur sekolah.
Sumber: SulawesiPos.com, “Pemerintah Tetapkan Harga Ayam dan Telur Mulai 15 Juli 2026, Wamentan Janji Peternak Tetap Untung”, 7 Juli 2026
Tapi ini permintaan yang berat sebelah: peternak rakyat diminta punya kelincahan produksi setara korporasi, hanya untuk mengikuti ritme kalender akademik yang mereka sendiri tidak ikut menyusun.
Solusinya Ada, Tapi Baru Sebatas Janji
Untuk kredit yang adil, pemerintah tidak diam saja. Selain harga acuan baru, Kementerian Perdagangan juga bergerak dengan menyurati sektor hotel-restoran-kafe agar ikut menyerap stok, sekaligus menjajaki ekspor telur dan ayam ke Arab Saudi dan China.
Sumber: Gebrak.id, “Harga Telur dan Ayam Anjlok Saat MBG Libur Sekolah, Mendag Siapkan Ekspor hingga Minta Horeka Serap Produksi”
Ini langkah yang masuk akal — tapi tetap saja reaktif, bukan preventif. Semua solusi ini muncul setelah harga jatuh dulu, bukan sebagai antisipasi sejak awal MBG dirancang menyerap pasar sebesar ini.
Yang Perlu Jujur Disampaikan ke Publik
Konsumen memang berhak khawatir harga akan naik lagi begitu MBG kembali beroperasi — pola ini sudah terbukti berulang dan bahkan diakui sendiri oleh pejabat terkait. Tapi menyalahkan MBG sepenuhnya juga tidak adil, karena program ini pada dasarnya dirancang untuk gizi anak, bukan untuk mengendalikan harga pasar. Masalah sebenarnya bukan pada niat programnya, melainkan pada ketiadaan mekanisme transisi yang matang antara musim libur dan musim aktif — sesuatu yang, sampai saat ini, masih dikerjakan sambil jalan.
Untuk emak-emak yang sedang menikmati harga murah: nikmati baik-baik, sambil realistis. Harga acuan baru mulai berlaku 15 Juli, hampir bersamaan dengan bel masuk sekolah. Kalau pola tahun-tahun ini masih sama seperti sebelumnya, jangan kaget kalau telur dan ayam pelan-pelan naik lagi dalam beberapa minggu ke depan.
Sumber: Kompas.com, SulawesiPos.com, Gebrak.id, Pontianak Post, dan M-RadarNews, per 6–8 Juli 2026.
