TalkNesia - Punya rumah sendiri dulu dianggap pencapaian yang wajar dicapai di usia 30-an. Tapi buat banyak Gen Z sekarang, target itu terasa semakin jauh dari jangkauan. Ini bukan soal Gen Z malas menabung, melainkan ada faktor struktural yang membuat situasinya jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Kesenjangan Harga Properti dan Pendapatan
Dalam satu dekade terakhir, harga properti di kota-kota besar naik jauh lebih cepat dibanding kenaikan upah rata-rata. Artinya, rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan terus melebar. Kalau dulu rumah bisa dibeli dengan setara 3-5 kali gaji tahunan, sekarang di banyak kota besar rasio itu bisa mencapai 8-10 kali lipat.
Perbandingan dengan Generasi Sebelumnya
Generasi orang tua Gen Z umumnya membeli rumah pertama di usia lebih muda, dengan cicilan yang secara proporsional lebih ringan terhadap gaji saat itu. Selain itu, biaya hidup dasar seperti pendidikan dan kesehatan juga mengambil porsi lebih besar dari pendapatan Gen Z dibanding generasi sebelumnya, sehingga sisa uang untuk ditabung demi DP rumah jadi lebih kecil.
Bukan Cuma Soal Uang, Tapi Juga Prioritas yang Berubah
Di sisi lain, sebagian Gen Z memang mulai mempertanyakan ulang apakah memiliki rumah adalah tujuan hidup yang wajib dikejar di usia muda. Fleksibilitas kerja remote, keinginan untuk berpindah kota, hingga preferensi menyewa dibanding membeli membuat sebagian dari mereka lebih memilih menyewa sambil mengalokasikan dana ke investasi lain yang lebih likuid.
Opsi Alternatif yang Bisa Dipertimbangkan
Bagi yang tetap ingin memiliki rumah, beberapa opsi bisa dipertimbangkan: memulai dari rumah subsidi atau di kota penyangga dengan harga lebih terjangkau, memanfaatkan skema KPR dengan bunga bersubsidi pemerintah, atau membeli bersama pasangan/keluarga untuk meringankan beban cicilan di awal.
Fenomena sulitnya Gen Z membeli rumah bukan cerminan dari kurangnya usaha, melainkan hasil dari perubahan ekonomi yang kompleks. Yang penting adalah memahami situasi ini secara realistis, lalu menyusun strategi finansial yang sesuai dengan kondisi saat ini—bukan membandingkan diri dengan standar generasi sebelumnya yang konteksnya sudah berbeda.
