Tiga tuan rumah, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, harus menelan kenyataan pahit: pulang lebih cepat di depan pendukung sendiri. Namun dari kepedihan itu, lahir kisah-kisah lain yang jauh lebih menggetarkan.
Argentina: Beban Sang Juara Bertahan
Membawa status juara bertahan bukan perkara mudah. Tiga gelar dunia (1978, 1986, 2022) berdiri di pundak setiap pemain yang mengenakan kostum biru-putih itu. Saat Tanjung Verde memaksa mereka bertarung hingga perpanjangan waktu di babak 32 besar, banyak yang mulai meragukan Albiceleste. Tapi Lionel Messi — di usia yang seharusnya sudah melambat — justru tampil semakin tajam. Tujuh gol sudah ia koleksi, memimpin perburuan sepatu emas, seolah menolak untuk membiarkan mimpi negaranya berakhir terlalu cepat.
Prancis: Bayang-Bayang Final yang Belum Terbalas
Kekalahan di final 2022 masih membekas di ingatan setiap pendukung Les Bleus. Dua gelar juara dunia tak pernah cukup menghapus rasa sakit kehilangan trofi di detik-detik akhir. Kini, dengan kemenangan tenang 1-0 atas Paraguay, Prancis melangkah lagi — dan takdir sepertinya sengaja mempertemukan mereka dengan Maroko di perempat final, mengulang kembali drama semifinal empat tahun silam.
Spanyol: Kesabaran yang Berbuah Manis
La Roja tak pernah menjadi tim yang gemar membuat kegaduhan. Gaya bermain mereka tenang, sabar, nyaris seperti sedang merajut kain — namun hasilnya sering kali menentukan. Kemenangan tipis 1-0 atas Portugal membuktikan itu sekali lagi. Satu gelar dunia pada 2010 kini menjadi motivasi untuk membuktikan diri bukan sekadar kenangan masa lalu.
Belgia: Generasi Emas yang Menolak Pudar
Bertahun-tahun disebut generasi emas yang belum pernah menyentuh puncak, Belgia kembali membungkam keraguan. Kemenangan telak 4-1 atas tuan rumah Amerika Serikat bukan hanya soal skor — itu adalah pernyataan bahwa mereka masih pantas diperhitungkan, meski gelar juara dunia masih menjadi mimpi yang belum terwujud.
Inggris: Enam Puluh Tahun Menanti
Tahun 1966 terasa begitu jauh bagi generasi pendukung Inggris hari ini. Satu gelar juara dunia, dan penantian panjang setelahnya, membuat setiap langkah Harry Kane dan kawan-kawan dipenuhi harapan sekaligus tekanan. Kemenangan 3-2 atas tuan rumah Meksiko di 16 besar menjaga mimpi itu tetap hidup — dan kali ini, publik Inggris berani percaya lagi.
Maroko: Sejarah yang Terus Ditulis Ulang
Empat tahun lalu, Maroko mengubah wajah sepak bola Afrika dengan melangkah ke semifinal Piala Dunia 2022 — pencapaian yang belum pernah diraih negara Afrika mana pun sebelumnya. Kini mereka kembali, dan kemenangan 3-0 atas tuan rumah Kanada membuktikan bahwa kisah 2022 bukan kebetulan. Ini adalah generasi yang datang untuk mengubah sejarah, bukan sekadar mengulanginya.
Norwegia: Keajaiban yang Ditunggu Satu Abad
Inilah yang membuat sepak bola begitu indah — tim yang tak pernah sekalipun mencicipi babak delapan besar Piala Dunia, kini berdiri di sana untuk pertama kalinya. Dua gol Erling Haaland menumbangkan Brasil, raksasa lima gelar dunia, dengan skor 2-1. Bagi Norwegia, ini bukan sekadar kemenangan pertandingan — ini adalah momen yang akan diceritakan turun-temurun.
Swiss: Ketenangan di Titik Penalti
Tak ada yang lebih menguras emosi selain drama adu penalti. Swiss, dengan capaian terbaik yang berasal dari tahun 1934 dan 1954, harus melewati tekanan luar biasa melawan Kolombia sebelum akhirnya menang 4-3 di titik putih. Sebuah kemenangan yang lahir bukan dari keunggulan skill semata, melainkan dari keberanian menahan napas di momen paling menegangkan dalam sepak bola.
Delapan tim, delapan cerita berbeda, satu tujuan yang sama. Sebagian membawa beban sejarah panjang, sebagian lain sedang menulis babak baru yang belum pernah ada. Yang pasti, perjalanan menuju semifinal Piala Dunia 2026 baru saja memasuki babak paling mendebarkan.
Data pertandingan diperbarui per 8 Juli 2026
