TalkNesia.My.Id - Ada momen kecil yang belakangan sering terjadi di dapur-dapur rumah tangga Indonesia: seorang ibu pulang dari pasar, menaruh kresek belanjaan di meja, lalu tersenyum lega. “Alhamdulillah, telur turun. Ayam juga turun.” Sebuah kelegaan sederhana, di tengah harga-harga yang selama ini terasa selalu naik dan jarang turun.
Di Karanganyar, Jawa Tengah, seorang ibu rumah tangga bernama Putri menceritakan kebahagiaannya apa adanya: ia senang harga ayam dan telur turun karena pengeluaran belanja keluarganya jadi lebih hemat, apalagi hampir setiap hari ia memasak ayam dan telur untuk MPASI anaknya. Ia berharap harga bisa tetap stabil agar ibu-ibu sepertinya lebih tenang saat belanja kebutuhan sehari-hari.
Sumber: TribunStyle.com, “Dapur MBG Libur, Harga Ayam dan Telur Anjlok Drastis, IRT Karanganyar Jateng Sumringah: Lebih Hemat”, 3 Juli 2026
Di Jepara, pedagang telur bernama Solikin mengaku harga telur turun cukup drastis dalam sepekan terakhir dan mengaitkannya langsung dengan liburnya MBG. Sementara pedagang ayam, Din Afif, mengeluhkan pasar yang sepi — harga ayam turun dari sekitar Rp35.000 menjadi Rp30.000 per kilogram karena stok melimpah sementara permintaan berkurang.
Sumber: Joglo Jateng, “Efek Program Makan Bergizi Gratis Libur, Harga Telur dan Ayam Potong di Jepara Langsung Turun Bebas”, 3 Juli 2026
Di Pasar Jepara Satu, harga telur yang sebelumnya Rp25.000–26.000 per kilogram turun menjadi Rp20.000. Di Pasar Welahan, dari Rp28.000–30.000 turun menjadi Rp22.000 per kilogram.
Sumber: Betanews.id, “MBG Libur, Harga Ayam dan Telur di Jepara Turun Drastis”, 3 Juli 2026
Cerita serupa datang dari Kota Kediri, Jawa Timur — telur turun dari Rp25.000 menjadi Rp21.000 per kilogram, ayam dari Rp35.000 menjadi Rp30.000, bahkan cabai dan bawang merah ikut turun.
Sumber: Cumicumi.com, “Harga Telur & Daging Ayam Dikabarkan Turun, Imbas MBG Diberhentikan?”, 30 Juni 2026
Ini Bukan Kebetulan — Pemerintah Sendiri yang Mengakuinya
Kegembiraan para ibu ini rupanya punya penjelasan yang sangat konkret, bukan sekadar dugaan warganet di media sosial.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, mengungkapkan bahwa penurunan harga ayam dan telur belakangan ini dipengaruhi turunnya permintaan akibat tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Ia menjelaskan MBG selama ini menjadi sumber permintaan baru yang cukup besar terhadap ayam dan telur, selain beras dan sayur. Ia bahkan menyebut kondisi ini sebagai hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah masih mempelajari polanya.
Sumber: Kompas.com, “Libur Sekolah Tekan Permintaan MBG, Harga Ayam dan Telur Ikut Turun”, 6 Juli 2026
Menteri Perdagangan Budi Santoso pun membenarkan hal yang sama. Ia menyebutkan telur yang harga eceran tertingginya (HET) Rp30.000 sempat dijual hanya Rp26.000, dan ayam yang HET-nya Rp40.000 dijual Rp36.000 — dengan liburnya MBG sebagai salah satu penyebabnya. Kondisi ini membuat Kementerian Perdagangan sampai menyurati hotel, restoran, dan kafe agar ikut menyerap kelebihan stok, serta menjajaki peluang ekspor telur ke Singapura.
Sumber: Detik.com, “Mendag Akui Harga Ayam-Telur Turun Saat MBG Libur”, 30 Juni 2026
Bank Indonesia Provinsi Bali bahkan mencatatnya sebagai faktor penahan inflasi daerah. Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa liburnya sekolah sekaligus MBG membuat harga telur dan daging ayam justru mengalami deflasi pada Juni 2026.
Sumber: NusaBali.com, “Libur Sekolah dan MBG Tekan Harga Telur serta Daging Ayam, Inflasi Bali Juni 2026 Tetap Terkendali”, 2 Juli 2026
Tapi Ada Rasa Was-Was di Balik Kelegaan Ini
Dan di sinilah letak kegetiran kecil yang jarang diungkap: kelegaan ibu-ibu ini punya batas waktu.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jepara, Anjar Jambore Widodo, sudah memberi sinyal itu secara terbuka: ia memprediksi jika MBG kembali beroperasi, harga telur ayam akan kembali naik, sejalan dengan besarnya kebutuhan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Sumber: Murianews.com, “Harga Telur di Jepara Anjlok, Imbas Program MBG Libur?”, 2 Juli 2026
Pedagang telur Solikin di Jepara juga menceritakan polanya dengan jujur: sebelum MBG berjalan, harga telur relatif stabil di kisaran Rp23.000–24.000 per kilogram. Namun begitu program itu berjalan, harga cenderung naik ke level Rp25.000–26.000 karena permintaan tinggi.
Sumber: Joglo Jateng, “Efek Program Makan Bergizi Gratis Libur…”, 3 Juli 2026
Dan memang, MBG bukan berhenti selamanya — ini hanya jeda musiman. Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara penyaluran MBG kepada siswa sejak masa libur sekolah dimulai, dan program dijadwalkan kembali berjalan begitu kegiatan belajar-mengajar dimulai lagi.
Sumber: Indopolitika.com, “MBG Libur, Harga Sayur dan Bahan Pokok Disebut Turun, Benarkah Ada Kaitannya?”, awal Juli 2026
Artinya, begitu bel sekolah berbunyi lagi dalam beberapa hari ke depan, jutaan porsi MBG akan kembali dimasak setiap pagi — dan permintaan ayam serta telur dalam skala nasional akan kembali melonjak.
Pemerintah Sudah Coba Pasang “Rem Darurat”
Untungnya, pemerintah tampaknya tidak tinggal diam. Untuk menjaga keseimbangan, pemerintah menetapkan harga acuan ayam hidup sebesar Rp19.500 per kilogram dan telur ayam Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak, mulai berlaku 15 Juli 2026 — hasil musyawarah Kementerian Pertanian bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), asosiasi, pelaku usaha, dan peternak unggas.
Sumber: Kompas.com, “Libur Sekolah Tekan Permintaan MBG…”, 6 Juli 2026
Wamentan Sudaryono juga menyampaikan harapan agar ke depan peternak bisa menyesuaikan kalender produksi mereka dengan kalender sekolah anak-anak, supaya gejolak harga musiman seperti ini bisa diantisipasi lebih baik di masa mendatang.
Sumber: Kompas.com, ibid.
Jujur Saja: Jangan Buru-Buru Menyalahkan Satu Sebab
Di tengah ramainya perbincangan warganet yang mengaitkan semua penurunan harga dengan liburnya MBG, ada catatan penting: mengaitkan seluruh penurunan harga hanya pada liburnya MBG adalah penyederhanaan. Harga pangan juga dipengaruhi produksi, musim panen, biaya distribusi, stok pasar, hingga daya beli masyarakat — sehingga fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa MBG telah menjadi salah satu pembeli besar dalam rantai pasok pangan, bukan satu-satunya penyebab secara nasional.
Sumber: Indopolitika.com, ibid.
Untuk Emak-Emak yang Sedang Menikmati Harga Murah Ini
Nikmati momen ini selagi ada. Tapi siapkan hati — dan mungkin sedikit anggaran ekstra — karena begitu anak-anak kembali duduk di bangku sekolah, dapur-dapur MBG di seluruh negeri akan kembali menyala, dan bersamaan dengan itu, harga ayam dan telur diperkirakan akan perlahan merangkak naik lagi. Harapannya, harga acuan pemerintah yang baru bisa menjaga agar kenaikannya kali ini tidak sekasar sebelumnya.
Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Kompas.com, Detik.com, TribunStyle.com, Murianews.com, Joglo Jateng, Betanews.id, Cumicumi.com, NusaBali.com, Radar Kuningan, dan Indopolitika.com per 30 Juni–7 Juli 2026.
