Mulai mengetik untuk mencari berita...

Beranda / News / Kualitas Udara Jakarta Peringkat Ketiga Terburuk di Dunia, Kamis Pagi Ini

Kualitas Udara Jakarta Peringkat Ketiga Terburuk di Dunia, Kamis Pagi Ini

Kualitas Udara Jakarta

Talknesia.ID - Warga Jakarta kembali disambut kabar yang sudah terasa akrab pada musim kemarau ini: udara ibu kota masuk jajaran terburuk di dunia. Berdasarkan data IQAir pada Kamis (20/8) pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat di angka 162, kategori tidak sehat, dan menempatkan Jakarta di peringkat ketiga kota dengan polusi udara terparah secara global.

Posisi Jakarta hanya kalah dari Kinshasa, Kongo, yang mencatat AQI 208, dan Kuching, Malaysia, di angka 199. IQAir merekomendasikan warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan.

Bukan Kejadian Sekali Ini Saja

Sepanjang Agustus, nama Jakarta berulang kali muncul di papan atas kota terpolusi dunia versi IQAir. Pada 16 Agustus, Jakarta sempat menempati posisi kedua dengan AQI 167. Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, 17 Agustus, Jakarta kembali ke posisi kedua dengan AQI 172. Pola berulang ini menunjukkan tekanan polusi di ibu kota bukan kejadian sesaat, melainkan kondisi musiman yang konsisten muncul selama kemarau.

Polutan utama yang mendominasi udara Jakarta adalah PM2.5, partikel halus yang berisiko masuk ke saluran pernapasan bagian bawah bila terhirup dalam jangka panjang.

Tiga Langkah Pemprov DKI

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut tiga strategi utama yang tengah dijalankan untuk menekan polusi udara di ibu kota:

  • Memperluas jangkauan layanan bus Transjabodetabek, termasuk rute baru Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, dan Blok M-Bandara Soekarno-Hatta, untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
  • Menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030, mengingat sektor transportasi menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta.
  • Mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, sebagai bagian dari pengendalian sumber pencemaran selain kendaraan bermotor.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang tersedia. Pemprov DKI bahkan telah menerbitkan aturan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat, sebagai salah satu insentif agar warga beralih dari kendaraan pribadi.

Kenapa Ini Perlu Diperhatikan

Target-target seperti elektrifikasi 10.000 bus baru terpasang untuk 2030, artinya dampaknya belum terasa dalam waktu dekat. Sementara itu, paparan udara tidak sehat hari ini langsung berimbas pada aktivitas warga, mulai dari pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, anak sekolah, hingga kelompok dengan riwayat asma dan gangguan paru.

Bagi warga yang beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker, membatasi olahraga outdoor pada jam-jam polusi tinggi, dan memantau AQI harian lewat aplikasi seperti IQAir atau JAKI bisa menjadi langkah antisipasi sederhana.

Talknesia mencatat: perbaikan kualitas udara Jakarta bukan proyek jangka pendek. Selama transisi menuju transportasi rendah emisi belum rampung, kewaspadaan harian warga tetap jadi garis pertahanan pertama.

Sumber: Koran Jakarta  |  IQAir  |  Kompas.com

Sponsor

Banner Iklan

Bagikan Artikel Ini